Kamis, 08 November 2012

Story GRC part One


Dulu, 3 tahun yang lalu kami tak saling mengenal satu sama lain. Menyapa kami malu, menatap kami segan, berbicarapun hanya sekedarnya saja. Semua sangat membosankan disekolah yang baru guru baru dan teman baru yang menurut gue ga ada yang berkesan disini.

Semua berjalan begitu hambar, dengan kesunyian, hampaan dan selalu saja kelabu. Hari hari yang kelabu dengan putih abu abu.

Tapi dengan seiring berjalannya waktu semua berubah menjadi lebih biru, walau dengan candaan yang agak jayus aneh dan terkesan basi karna mungkin kita tidak saling terbuka .

candaan itu menjadi sangat memuakan bagiku. Hadirlah pencetus free talk but fun yaitu siti fatimah nasution yang selalu menceploskan hal apapun ke dalam bahasa yang aneh.

berawal dari sini kamipun masing masing berekspresi dengan gaya apapun walau kadang terkesan sangat aneh atau gaje. Tapi kegajean itu selalu membuat kami tertawa, selalu penuh dengan cerita baru.

Dan tawa yang tak palsu. Masih dalam batas kewajaran perteman kami di tahun pertama mengalir begitu datar dan agak membosankan.

Tahun ke dua kenakalan kenakalanpun sering kami lakukan tanpa di sadari kenakalan kami sudah melampaui batas. yang sebenarnya bukan niatan kami secara hati untuk melakukan itu.

Berawal dari salah satu teman kami yang bernama Aulia Azizah Ardhita yang sering bolos ga jelas.

Kamipun sebenarnya sering membicarakan dia karna sering sekali tertoreh huruf a di buku absensi siswa. Mungkin dia penat dengan kondisi kelas.

Bolos tak separah dengan kata cabut. Tak bisa di pungkiri bahwa kamipun sering sekali cabut ketika masih ada pelajaran tapi itu hanya beberapa anak nakal saja dari kelas kami.

Waktu bergulir dengan cepatnya tak sadar bahwa kami memang semakin dekat dalam menjalin pertemanan.

Menjadikan kenakalan kami lebih bervariasi.

Mungkin dalam hal contek mencontek, berisik dalam kelas
Telat sampe belasan menit atau tidak mengerjakan tugas itu hal yang biasa di lakukan para siswa.

Tapi kenakalan kami cukup sangat buruk untuk di lakukan, tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan kami karna melakukan hal seperti mampu mengeluarkan guru dari sekolah, sering membuat guru menangis karna salah faham, mengecewakan guru karna keegoisan kami, cabut dari sekolah ke luar kota dengan membuat surat palsu, demo, memecahkan kaca sekolah saat pertengkaran hebat, adu argument yang mengguras emosi dan lain sebagainya.

Namun disisi kenegatifan kami lihatlah prestasi yang telah kami berikan kepada sekolah, perlombaan paskib,model,cerdas cermat,pidato,karate,kir,membuat cerita,dokumentasi,osis,ldks ade kelas,membantu guru dsb.

Walau kami teramat menjengkelkan namun kemampuan yang kami miliki bukan alasan kami untuk menjadi sombong dengan berbagai kenakalan .

Kami sadar betapa nakalnya kami hingga guru meneteskan air mata kekecewaannya tapi......


Bersambung ke part II :P 
Like ·  ·  · Share · Delete

Tidak ada komentar:

Posting Komentar